Antisipasi Kekeringan Saat El Nino Dengan IPAP
Bogor – Balai Perakitan dan Pengujian Agroklimat dan Hidrologi Pertanian (BRMP Agroklimat) terus mengedukasi masyarakat dan pelaku usaha tani terkait langkah antisipasi kekeringan pada periode El Niño melalui penerapan IPAP atau Infrastruktur Panen Air Pertanian. Strategi ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air irigasi di tengah menurunnya curah hujan dan meningkatnya risiko kekeringan.
IPAP merupakan pendekatan terpadu melalui pembangunan dan pemanfaatan sarana penampungan serta penyediaan air pertanian yang disesuaikan dengan kondisi wilayah. Dalam implementasinya, terdapat tiga komponen utama yang dapat dikombinasikan, yaitu embung kecil, dam parit, dan sumur bor.
Embung kecil berfungsi sebagai tempat penyimpanan air hujan yang mampu melayani area pertanian cukup luas. Infrastruktur ini efektif dibangun sebelum musim kemarau tiba, sehingga volume tampungan dapat terisi maksimal saat musim hujan. Namun, efektivitas embung menjadi berkurang apabila kondisi kekeringan sudah berlangsung ekstrem.
Sementara itu, dam parit berperan menahan aliran air di saluran kecil sehingga air dapat dimanfaatkan lebih lama. Selain biaya pembangunan yang relatif murah dan pengerjaan yang cepat, dam parit juga cocok diterapkan di wilayah berbukit. Meski demikian, kapasitas tampungnya umumnya kecil sehingga perlu didukung sarana lain ketika menghadapi El Niño kuat.
Untuk kebutuhan darurat, sumur bor menjadi solusi paling efektif karena mampu menyediakan air meskipun hujan tidak turun dalam waktu lama. Sumur bor memiliki ketergantungan rendah terhadap curah hujan, namun tetap perlu dikelola secara bijak agar tidak terjadi eksploitasi air tanah berlebihan.
Strategi ideal menghadapi El Niño adalah memaksimalkan embung kecil dan membangun dam parit pada fase pra-El Niño atau sebelum puncak kemarau. Ketika kekeringan mulai terjadi, sumur bor dapat diandalkan sebagai sumber air utama. Selain itu, petani juga dianjurkan menerapkan irigasi hemat air seperti sistem tetes atau hidroponik, serta menyesuaikan pola tanam agar fase kritis tanaman tidak terjadi saat puncak kekeringan.
Melalui edukasi ini, diharapkan petani semakin siap menghadapi perubahan iklim dan mampu menjaga produktivitas pertanian secara berkelanjutan. Infrastruktur panen air pertanian diharapkan menjadi solusi adaptif dalam memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan cuaca ekstrem.