Intensifikasi Jagung di Lahan Kering melalui Pengelolaan Air Presisi
Bogor — Pengelolaan air menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas jagung, khususnya pada lahan kering yang sangat bergantung pada ketersediaan air hujan. Ketidakpastian curah hujan dan keterbatasan sumber air menjadi tantangan yang perlu diantisipasi melalui pengelolaan air yang lebih efektif dan presisi.
Balai Perakitan dan Pengujian Agroklimat dan Hidrologi Pertanian (BRMP Agroklimat) mendorong penerapan teknologi pengelolaan air presisi sebagai salah satu pendekatan dalam mendukung intensifikasi budidaya jagung di lahan kering.
Pada sistem produksi jagung lahan kering, pasokan air hujan musiman sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman. Distribusi hujan yang tidak merata dapat menyebabkan defisit air, terutama pada fase kritis pertumbuhan seperti pembungaan dan pengisian biji. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pembentukan tongkol dan menurunkan hasil produksi.
Tantangan lainnya adalah keterbatasan sumber air permukaan dan jaringan irigasi. Praktik pengairan yang masih dilakukan secara manual dan berdasarkan perkiraan visual juga belum mampu memberikan air secara optimal sesuai kebutuhan tanaman.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pengelolaan air dapat dilakukan melalui integrasi sejumlah teknologi. Sumur bor dalam dapat menjadi sumber pasokan air alternatif untuk menjaga ketersediaan air, terutama ketika curah hujan tidak mencukupi.
Selanjutnya, sensor tanah dan teknologi Internet of Things (IoT) dapat digunakan untuk memantau kelembapan tanah secara real-time. Data tersebut membantu menentukan waktu dan kebutuhan penyiraman sehingga pemberian air dapat dilakukan secara lebih tepat dan mengurangi pemborosan.
Sementara itu, penggunaan irigasi big gun memungkinkan distribusi air bertekanan tinggi ke area pertanaman secara lebih luas dan merata. Sistem ini dapat mendukung penyiraman yang lebih terarah sesuai dengan kebutuhan lahan.
Integrasi sumber air, sensor tanah berbasis IoT, dan sistem irigasi presisi menjadi pendekatan yang dapat mendukung efisiensi penggunaan air sekaligus menjaga kondisi kelembapan tanah pada fase-fase penting pertumbuhan jagung.
Melalui pengelolaan air yang lebih presisi, budidaya jagung di lahan kering tidak hanya diarahkan untuk menghadapi risiko kekeringan, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya air. Pendekatan berbasis teknologi ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan pertanian yang lebih adaptif terhadap variabilitas iklim dan mendukung peningkatan produktivitas jagung secara berkelanjutan.