Pertanian Terpadu, Panen Pangan dan Energi Sekaligus Tanpa Tambah Lahan
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor — Di tengah krisis energi dan pangan, muncul terobosan cerdas yaitu sistem pertanian terpadu yang membuat satu lahan mampu memproduksi bahan pangan dan energi terbarukan sekaligus. Pertanian tak lagi sekadar urusan pangan. Kini, dari lahan yang sama, petani juga bisa menumbuhkan energi.Ketika kebutuhan energi terbarukan terus meningkat, lahan pertanian punya peran baru: bukan hanya penghasil padi dan jagung, tapi juga sumber bahan bakar hijau, sekaligus menjaga lingkungan.
Melalui sistem pertanian terpadu, tanaman energi seperti kaliandra, indigofera, gamal, dan akasia bisa tumbuh berdampingan dengan tanaman pangan dan ternak. Daunnya jadi pakan, batangnya jadi biomassa, dan tanahnya tetap subur. Biomassa yang digunakan sebagai bahan bakar pengganti fosil, dapat membantu penurunan emisi gas rumah kaca, yang diharapkan dapat mendukung pencapaian net zero emission.
Indonesia punya semua modal untuk mengembangkan ini, mulai dari iklim yang beragam, kondisi lahan yang mendukung, dan jutaan hektare lahan marginal yang masih belum dimanfaatkan. Tantangannya kini adalah memastikan langkahnya terarah agar pertanian energi ini benar-benar bisa berjalan efektif, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi petani dan negeri.
Di tengah gempuran isu perubahan iklim dan kebutuhan energi yang terus meningkat, Indonesia mencari jalan tengah antara menjaga ketahanan pangan dan memenuhi kebutuhan energi nasional.Dari situ lahirlah sebuah konsep Sistem Pertanian Terpadu Tanaman Energi, atau yang lebih akrab disebut SPT2E, cara cerdas untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan hasil pertanian.
Program ini bukan sekadar jargon hijau. Di baliknya, ada kolaborasi besar antara PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) dan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Kementerian Pertanian.Tujuannya sederhana tapi ambisius, mewujudkan ketahanan pangan, transisi energi dan pencapaian target net zero emission.
Lahan Pertanian Pembangkit Listrik
Krisis energi dan perubahan iklim kini menjadi dua sisi mata uang yang sama. Indonesia masih bergantung besar pada batu bara, sumber energi yang murah tapi beremisi tinggi. Pemerintah pun menetapkan arah baru yakni transisi menuju energi terbarukan, sejalan dengan target Net Zero Emission dan Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC).
Dalam perjalanan menuju swasembada energi, Indonesia mulai melangkah ke arah yang lebih hijau. Pemerintah kini tak hanya mengejar peningkatan produksi energi dalam negeri, tetapi juga mendorong transisi dari bahan bakar fosil seperti batu bara ke sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. PLN, sebagai tulang punggung penyedia listrik nasional, mulai menerapkan teknologi co-firing biomassa, yaitu mencampur batu bara dengan bahan bakar organik seperti kayu, sekam, dan limbah pertanian di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Pada tahap awal, pemanfaatan biomassa melalui skema co-firing dapat secara langsung mengurangi proporsi penggunaan batu bara yang merupakan sumber emisi karbon utama. Proses ini menurunkan intensitas emisi CO₂ per satuan energi karena biomassa dianggap sebagai sumber energi netral karbon yaitu karbon yang dilepaskan saat pembakaran berasal dari karbon yang sebelumnya diserap tanaman selama proses fotosintesis. Dengan demikian, substitusi sebagian bahan bakar fosil oleh biomassa menghasilkan neraca karbon yang lebih seimbang.
Masalahnya, pasokan biomassa belum stabil dan kualitasnya masih rendah. Di sinilah SPT2E hadir, dengan menggandeng Kementerian Pertanian, PLN mencoba membangun ekosistem baru yakni lahan pertanian yang tidak hanya menghasilkan pangan, tapi juga energi.
SPT2E memiliki empat tujuan utama yaitu menghasilkan biomassa berkelanjutan sebagai bahan baku co-firing, mengintegrasikan produksi pangan dengan biomassa penyedia energi terbaharukan. Termasuk mengoptimalkan penggunaan lahan sub-optimal, meningkatkan peluang lapangan pekerjaan dan mendukung penurunan emisi gas rumah kaca. Menariknya, bahan bakar hijau ini tumbuh dari tangan petani, di lahan-lahan suboptimal seperti lahan kering, semak, atau bekas tambang, dapat ditanami kaliandra, indigofera, gamal, dan tanaman energi lainnya. Pendekatannya dikenal sebagai alley cropping (pertanaman lorong) dan intercropping (tumpangsari).
Daun tanaman energi bisa jadi pakan ternak, batangnya dijual sebagai bahan biomassa, sementara di sela-selanya bisa tumbuh padi, jagung, sorgum, ubi kayu ataupun tanaman perkebunan seperti kopi dan serai wangi. Bahkan abu sisa pembakaran (FABA) dari PLTU diolah kembali menjadi pupuk. Semua bagian dimanfaatkan, nyaris tanpa limbah.
Pilot Project
Pilot project pertama Sistem Pertanian Terpadu Tanaman Energi (SPT2E) mulai berjalan pada 2024 di 50 lokasi yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Total luasannya mencapai sekitar 500 hektare, dengan jarak maksimal 100 km dari PLTU terdekat supaya efisiensi logistik tetap terjaga. Meski tiap lokasi punya kondisi lahan yang berbeda, benang merahnya serupa: lahan marginal yang sebelumnya sulit digarap kini disulap menjadi sumber energi terbarukan sekaligus sumber pendapatan tambahan bagi petani.
Program ini melibatkan lebih dari 1.000 petani dengan empat tahapan klaster. Tahap pengenalan dilakukan di 24 titik seluas 240 hektare dengan fokus pada penanaman tanaman energi dan tanaman pangan sekali musim. Tahap penumbuhan mencakup 16 titik seluas 160 hektare, di mana tanaman energi dipadukan dengan tanaman sela, lengkap dengan kegiatan produksi dan pemasaran hasil tanam sela tersebut. Tahap pengembangan berada di 10 titik yang awalnya seluas 106 hektare dan berkembang menjadi 186 hektare, dengan aktivitas yang mencakup penanaman tanaman energi, produksi tanaman sela, serta perluasan manfaat bagi lebih banyak petani. Sementara itu, tahap mandiri masih dalam proses menuju pembentukan.
Peluang dan Tantangan
SPT2E bukan sekadar program ramah lingkungan, tetapi juga menawarkan model ekonomi kerakyatan yang nyata terasa di level desa. Hasil simulasi usahatani menunjukkan potensi yang cukup menggugah. Produksi tanaman energi mampu mencapai sekitar 60 ton hijauan segar per hektare per tahun. Dari sisi tanaman sela seperti jagung, ubi kayu, sorgum, kopi, hingga serai wangi, petani dapat mengantongi tambahan pendapatan sekitar Rp20–35 juta per siklus tanam. Jika usaha ini dipadukan dengan beternak kambing sebanyak 30 induk, potensi keuntungan bisa menyentuh Rp48 juta dalam delapan bulan dengan nilai B/C ratio 1,8, menandakan usaha yang layak secara ekonomi. Pendapatan petani juga diperkuat dari penjualan biomassa kering dengan harga berkisar Rp500–3.000 per kilogram, serta pelet biomassa yang dapat mencapai Rp4.000 per kilogram.
Di banyak desa, BUMDes dan UMKM ikut turun tangan dalam proses pengolahan biomassa sehingga terbentuk rantai nilai baru yang menghubungkan desa dengan PLTU. Meski prospeknya cerah, perjalanan menuju kemandirian energi melalui SPT2E tidak lepas dari rintangan. BRMP dan PLN mencatat beberapa tantangan utama, mulai dari keterbatasan bibit tanaman energi terutama di wilayah terpencil, akses jalan menuju PLTU yang kurang mendukung, kemampuan teknis budidaya petani yang belum merata, hingga kelembagaan lokal seperti gapoktan dan BUMDes yang perannya masih perlu diperkuat.
Sebagai respon, pemerintah menyiapkan bimbingan teknis dan pendampingan intensif sembari memperkuat koordinasi antara pusat dan daerah. Tahap berikutnya akan diarahkan pada kolaborasi dengan organisasi pertanian berskala besar, memperluas jangkauan program, serta membangun kelembagaan ekonomi desa yang lebih kokoh agar SPT2E dapat mandiri dalam dua tahun ke depan.
Masa Depan
SPT2E menunjukkan bahwa kemandirian energi tak harus mengorbankan ketahanan pangan. Keduanya justru bisa tumbuh berdampingan dan saling menguatkan. Melalui integrasi tanaman energi, pangan, dan ternak, program ini menanam masa depan yang lebih hijau: energi bersih yang lahir dari lahan desa, sekaligus harapan baru bagi petani yang merawatnya.
Reporter : Rima Purnamayani & Haris Syahbuddin
Sumber Berita : https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/tekno-lingkungan/26115-Pertanian-Terpadu-Panen-Pangan-dan-Energi-Sekaligus-Tanpa-Tambah-Lahan