BRMP Agroklimat Tingkatkan Kapasitas Penilaian Adaptasi Perubahan Iklim di Sektor Pertanian
Bogor, 11 Mei 2026 — Ketahanan sektor pertanian terhadap perubahan iklim memerlukan langkah adaptasi yang terukur dan berbasis evaluasi yang tepat. Untuk mendukung hal tersebut, diselenggarakan pelatihan penilaian adaptasi dampak perubahan iklim di sektor pertanian pada Senin, 11 Mei 2026.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman peserta mengenai metode penilaian adaptasi iklim sebagai instrumen strategis dalam mengukur efektivitas berbagai intervensi yang telah diterapkan di sektor pertanian. Penilaian adaptasi menjadi penting untuk memastikan bahwa langkah-langkah yang dilakukan benar-benar mampu mengurangi kerentanan, meningkatkan kapasitas adaptasi, serta memperkuat ketahanan pertanian terhadap dampak perubahan iklim.
Pelatihan menghadirkan dua narasumber, yaitu Eko Muhartadi S. Siregar dari PT Sucofindo dan Elza Sumarni dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN. Dalam paparannya, disampaikan tiga metode utama yang digunakan dalam penilaian adaptasi perubahan iklim, yakni Tracking Adaptation FAO, CIPP Model (Context, Input, Process, Product) dan Customer Satisfaction Index, serta Importance Performance Analysis (IPA).
Selain membahas konsep dan metode penilaian, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya evaluasi adaptasi untuk mencegah terjadinya tindakan yang kurang efektif atau maladaptif. Dengan pendekatan yang sistematis, hasil penilaian diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan dan strategi adaptasi perubahan iklim yang lebih tepat sasaran.
Kegiatan pelatihan berlangsung secara interaktif melalui diskusi, pemaparan materi, dan sesi berbagi pengalaman antar peserta. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi terkait penerapan metode penilaian adaptasi pada berbagai kondisi dan tantangan sektor pertanian di lapangan.
Melalui pelatihan ini, BRMP Agroklimat dan Hidrologi Pertanian berharap kapasitas para pemangku kepentingan dalam melakukan evaluasi adaptasi perubahan iklim dapat semakin meningkat. Penguatan kapasitas tersebut diharapkan mampu mendukung pembangunan pertanian yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di tengah dinamika perubahan iklim global.