Siaga Menghadapi Kekeringan: Mengintip Prediksi di Pulau Jawa
Bogor — Kekeringan merupakan bencana yang bersifat creeping disaster atau bencana yang berkembang secara perlahan, sehingga waktu awal maupun akhir kejadiannya sulit ditentukan secara pasti. Oleh karena itu, pemantauan dan prediksi menjadi salah satu langkah penting dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak kekeringan.
Salah satu metode yang dapat digunakan dalam mengukur anomali defisit curah hujan kumulatif dalam periode tiga bulan yaitu metode Standardized Precipitation Index (SPI-3). Indeks ini menjadi salah satu indikator utama untuk memproyeksikan potensi kekeringan yang berpengaruh terhadap ketersediaan kelembapan tanah, terutama pada lahan pertanian.
Selain berfungsi sebagai indikator kondisi kelembapan tanah, SPI-3 juga menjadi dasar dalam sistem peringatan dini kekeringan, khususnya pada kawasan Lahan Baku Sawah (LBS). Nilai indeks yang semakin negatif menunjukkan kondisi yang semakin kering sehingga memerlukan perhatian lebih dalam pengelolaan sumber daya air.
Berdasarkan hasil analisis SPI-3 yang dirilis pada Juni 2026, beberapa wilayah di Pulau Jawa menunjukkan tingkat risiko kekeringan yang berbeda. Di Provinsi Banten dan DKI Jakarta, kondisi didominasi kategori Agak Kering hingga Sangat Kering, terutama di wilayah utara dan pesisir barat, sehingga diperlukan pengelolaan distribusi air waduk secara terpadu.
Sementara itu, sebagian besar Lahan Baku Sawah di wilayah Pantai Utara Jawa Barat mulai terindikasi mengalami penurunan cadangan air tanah. Kondisi tersebut memerlukan percepatan koordinasi pemanfaatan pompa air dari sungai-sungai utama untuk menjaga ketersediaan air irigasi.
Adapun di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur, sebagian besar wilayah masih berada pada kategori normal. Meski demikian, beberapa wilayah di bagian timur Jawa Timur mulai menunjukkan sinyal kekeringan musiman yang perlu terus dipantau sebagai langkah antisipasi.
Melalui penyampaian informasi prediksi ini, BRMP Agroklimat berharap pemerintah daerah, penyuluh pertanian, serta petani dapat memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar dalam menyusun strategi pengelolaan air, penyesuaian pola tanam, dan langkah mitigasi lainnya guna meminimalkan dampak kekeringan terhadap produksi pertanian.
BRMP Agroklimat juga mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti informasi agroklimat dan prediksi kekeringan yang diperbarui secara berkala sebagai bagian dari upaya membangun pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim.